Melayani Dengan Cakap
Tantangan kepemimpinan gereja saat ini ialah, "Bagaimana menjadi imam atau pewarta dan pemimpin umat di Indonesia dalam gereja di dunia dan bagi Injil Yesus Kristus?"
Tantangan kepemimpinan gereja saat ini ialah, "Bagaimana menjadi imam atau pewarta dan pemimpin umat di Indonesia dalam gereja di dunia dan bagi Injil Yesus Kristus?"
Baru-baru ini, saya membaca buku "Spiritual Leadership" karya J. Oswald Sanders sementara saya mempelajari makalah yang saya tulis di seminari. Saya selalu menggumulkan gagasan tentang kepemimpinan jenis ini di gereja. Pada dasarnya, saya percaya bahwa semua orang Kristen adalah pemimpin dalam hal-hal tertentu. Setiap orang Kristen setidaknya memiliki pengaruh terhadap satu orang. Karena itu, bahkan jika hanya menjadi pemimpin bagi satu orang saja, mereka tetap dapat disebut sebagai pemimpin.
Shalom,
Seorang pemimpin Kristen yang paham akan prinsip-prinsip kepemimpinan alkitabiah, pasti mengetahui bahwa pemimpin bukan orang yang bisa bertindak sewenang-wenang dan semena-mena kepada orang-orang yang dipimpinnya. Sebaliknya, pemimpin adalah seseorang yang seharusnya menjadi panutan dalam hal melayani. Seperti yang Yesus katakan, "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya." (Markus 10:43-44)
Seseorang menuliskan, "Tertawa berisiko memperlihatkan kebodohan. Menangis berisiko memperlihatkan kecengengan. Bertemu orang lain berisiko memperlihatkan keterlibatan. Menunjukkan perasaan berisiko menunjukkan diri Anda yang sebenarnya. Mengemukakan gagasan-gagasan, impian-impian Anda di hadapan umum berisiko kehilangan mereka. Mencintai berisiko untuk tidak dicintai. Hidup berisiko mati. Berharap berisiko putus asa. Mencoba berisiko gagal." Artinya, semua keputusan dan tindakan yang kita ambil dalam hidup ini menghasilkan risiko.
Baca: Filipi 2:1-11
Apa kesamaan Fransiskus Asisi, Ibu Teresa, dan Romo Mangun? Salah satu hal yang paling menonjol dari ketiganya adalah mereka rela meninggalkan kenyamanan hidup untuk tinggal dan melayani orang-orang miskin; baik di Eropa berabad-abad yang lalu, di India, maupun di Indonesia. Kita percaya mereka melakukannya karena iman kepada Kristus. Kita pun percaya inspirasi mereka datang dari peristiwa 2000 tahun lalu, pada suatu malam di Betlehem.
Malam itu, Allah Pencipta dan Penguasa semesta meninggalkan segala kemuliaan-Nya, berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Bukan dalam rupa seorang raja, bangsawan, atau orang terhormat, melainkan sebagai anak dari sepasang wong cilik (rakyat jelata), yang bahkan tak sanggup menyewa tempat untuk melahirkan bayi dengan layak (Lukas 2:7). Paulus menggambarkan peristiwa ini dengan kalimat: "Dia mengosongkan diri-Nya" (ayat 6).
| Judul buku | : | Kepemimpinan yang Efektif |
| Judul asli buku | : | On-Purpose Leadership |
| Penulis | : | Dale Galloway dan Warren Bird |
| Penerjemah | : | Meiliana Purnama |
| Penerbit | : | Harvest Publication House, Jakarta 2003 |
| Ukuran | : | 15 cm x 23 cm |
| Tebal | : | 190 halaman |
Pemimpin yang memiliki kompetensi adalah pemimpin yang bisa memotivasi dan meregenerasi pemimpin-pemimpin baru. Karena jika seorang pemimpin tidak melakukan hal ini, maka terjadi sebuah kegagalan dalam struktur kepemimpinannya. Mengapa hal ini sangat penting? Karena bagi sebuah organisasi atau struktur lembaga apa pun, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan dengan tujuan agar dapat mempertahankan eksistensi dari lembaga tersebut. Jika tidak, maka harus siap menghadapi stagnasi yang berujung kepada kehancuran.
Salah satu model kepemimpinan di dunia adalah kepemimpinan transformasional. Mereka yang menganut model kepemimpinan ini membawa transformasi, baik secara fisik maupun secara ide, bagi dunia; membawa perubahan mendasar. Dalam dunia kepemimpinan, Prof.
Apakah yang selama ini Anda yakini akan terjadi, belum juga terjadi? Mungkin terobosan keuangan, pekerjaan, kenaikan jabatan, relasi, atau keluarga yang perlu diselamatkan? Apa pun itu -- Anda harus tahu bahwa semuanya tidak akan berakhir sampai benar-benar berakhir! Apa pun yang belum terjadi, masih bisa terjadi selama Anda masih hidup dan bernapas hingga saat ini! Keganjilan bisa saja nampak tidak baik, tetapi Allah baik! Allah adalah Allah "yang melawan semua keganjilan". Dan meskipun kita tidak bisa memilih sebagian besar tantangan yang kita hadapi, namun kita bisa memilih bagaimana kita menghadapinya. Kebanyakan orang memilih untuk menyerah atau berhenti berusaha, namun saya tidak yakin kalau itu adalah keputusan yang seharusnya kita ambil ketika Tuhan masih ikut campur di dalamnya. Keputusan yang harus kita ambil adalah tetap terus berusaha! Tetap terus percaya, mengejar, dan berharap -- tetap terus berusaha!